Dua hari ini semua cerita tentang hujan yang nyaris tiada henti dan banjir di beberapa wilayah di Makassar.Banjir semalam punya banyak cerita bagi masing-masing orang. Ada yang harus putar balik karena kemacetan, ada yang harus tinggal berjam-jam di kantor dan sampai dirumah tengah malam, dan ada pula yang nekat menikmati kemacetan dengan perasaan deg-degan oleh air yang mungkin saja merusak mesin kendaraan mereka.
Angkot 05 yang nyaris tak terlihat bahkan kendaraan on line yang tarifnya membengkak dan penjemputan yang lama. Saya pun memutuskan untuk berjalan ke depan Wessabe, untuk naik angkot Sudiang ataupun BTP.
Ketidakhadiran ibu gembala, dingin, basah, macet, kram perut serta kendaraan yang sulit didapat adalah pembenaran-pembenaran yang mungkin bisa saya pakai untuk tidak pergi doa malam itu. Ditambah saya harus berjalan kaki dari depan Mie Aceh sampai tempat angkot Ikip. Becek, kotor, dan semua situasi tersebut diatas adalah terlalu murahan untuk mengambil sukacita saya malam ini.
Sambil berkata dalam hati saya: "Berilah kekuatan dan semangat untuk anak yang haus akan baitMu ya Bapa!"
Sambil berkata dalam hati saya: "Berilah kekuatan dan semangat untuk anak yang haus akan baitMu ya Bapa!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar